" MENGENANG SOSOK PETARUNG DA'WAH,,,,,,,,"
Syaikhut Tarbiyah, KH Rahmat Abdullah:
Usianya belumlah setengah abad. Tapi pembawaannya yang
tenang kebapakan serta rambut dan janggutnya yang sebagian telah memutih,
mengesankan pria kelahiran Jakarta, 3 Juli 1953 ini lebih tua dari usia yang
sebenarnya. Sehingga cukup pantas bila ia kerap dituakan dan disegani oleh
lingkungan pergaulannya.Dalam publikasi acara Seminar Nasional “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI Depok, awal bulan lalu, ustadz keturunan Betawi ini ditetapkan sebagai pembicara utama (keynote speaker) serta disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah; sebuah jabatan yang belum populer di telinga masyarakat, termasuk di kalangan aktivis da’wah dan harakah (pergerakan) selama ini.
Ketika dikonfirmasi Sahid tentang jabatan tersebut, sambil
tersenyum dan merendah Rahmat membantahnya. Menurut Ketua Yayasan
Iqro’ Bekasi ini
sebutan tersebut hanyalah gurauan panitia yang kebetulan telah akrab dengannya.
Rahmat sempat mengajukan keberatan kepada panitia, tapi ternyata publikasinya
sudah terlanjur disebar. Akhirnya ayah dari tujuh putra-putri ini cuma bisa
balik bergurau, “Adik-adik mau nyindir bahwa saya sudah kakek-kakek ya? Syaikh
itu kan dalam bahasa Arab artinya kakek.”
Boleh jadi jabatan Syaikh Tarbiyah itu, seperti
diakuinya, cuma gurauan atau sindiran panitia. Tapi banyak orang percaya
sejatinya suami Sumarni HM Umar ini memang orang yang dituakan dalam gerakan
yang bernama Tarbiyah. Apalagi mengingat di kepengurusan Partai Keadilan (PK)
Rahmat memegang amanat sebagai Ketua Majelis Syuro dan Ketua Majelis
Pertimbangan Partai. Seperti dimaklumi, PK didirikan dan disokong oleh para
kader Tarbiyah.
Dalam seminar nasional yang dihadiri ribuan aktivis
dan simpatisan Tarbiyah, Rahmat mengawali acara dengan orasi bertajuk “Kilas
Balik 20 Tahun Tarbiyah Islamiyah di Indonesia dan Langkah Pasti Menyongsong
Masa Depan.” Dalam kesempatan tersebut dicanangkan tahun 1422 H ini sebagai
tahun kebangkitan Tarbiyah Islamiyah di Indonesia.
Dalam kancah pergerakan Islam di Indonesia, nama
gerakan Tarbiyah belum populer di kalangan masyarakat awam. Kata tarbiyah lebih
biasa dilekatkan orang pada Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), sebuah ormas
Islam yang berbasis di Sumatera Barat dan pernah menjadi partai Islam.
Namun bagi orang yang akrab dengan gerakan da’wah
kampus, tidaklah merasa asing dengan sebutan itu. Di era ’80-an dan ’90-an
gerakan ini kerap juga disebut Ikhwan, karena akrabnya aktivis Tarbiyah
dengan manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam di Mesir yang
pengaruhnya telah mendunia.
Dari orasi yang disampaikan Rahmat, memori orang
terpanggil lagi pada kenangan 20 tahun ke belakang ketika aktivis Tarbiyah
merintis gerakan ini di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Salah satu tandanya
adalah merebaknya pengajian usrah dan halaqah di kampus-kampus. Tonggak lainnya,
mulai maraknya pemakaian jilbab oleh para siswi dan mahasiswi yang mendapat
tentangan keras dari berbagai kalangan yang alergi terhadap syariat Islam.
“Gedung sekolah dan semua peralatan sekolah, termasuk Departemen Pendidikan
yang dibangun 90% dananya dari ummat Islam, harus mengusir putri-putri Islam
karena mereka menggunakan busana demi melaksanakan perintah agama mereka,”
ungkap murid kesayangan almarhum KH Abdullah Syafi’i ini dalam orasinya.
Begitu banyak pahit getir yang dirasakan, sehingga ada
sebagian kader yang terputus dari jalan perjuangan. Tapi banyak pula yang
bersabar, terus bermujahadah menempa diri dan menabung amal, bertahan hingga
kini, menyemai insan dakwah ke seluruh pelosok negeri. Hasilnya antara lain,
jilbab jadi pakaian jamak bagi wanita di negeri ini. Dari yang benar-benar
penuh kesadaran berislam hingga yang masih ikut-ikutan lantaran telah jadi
mode.
Tentu saja itu semua bukan cuma hasil kerja Rahmat
Abdullah dan kawan-kawan seperjuangannya di Tarbiyah. Tapi harus diakui saham
harakah Tarbiyah bersama harakah-harakah lain telah memberi itsar (bekas) perjalanan da’wah yang
mengesankan di zamrud katulistiwa tercinta ini.
Bagaimana sejarah bermulanya harakah ini? Apakah benar
terkait dengan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir? Kepada
Saiful Hamiwanto, Pambudi Utomo dan Deka
Kurniawan dari Sahid, yang bertandang ke rumahnya yang
sederhana nan asri di Kompleks Islamic Village Iqro’, Pondok Gede, Bekasi, kiai yang
ramah ini membeberkannya untuk Anda, para pembaca. Berikut ini kutipan dari
sekitar tiga jam perbincangan dengannya. Selamat mengikuti.
Dengan menggelar seminar “Tarbiyah
di Era Baru”, gerakan Tarbiyah tampaknya mulai membuka diri secara
terang-terangan. Bahkan tahun ini dicanangkan sebagai ‘Aam (Tahun Kebangkitan)
At-Tarbiyah. Apa latar belakangnya?
Bismillah, sangat disadari bahwa setiap fase
perjuangan itu menuntut sikap-sikap sesuai dengan fase-fase tersebut. Sehingga
ada doktrin dalam Tarbiyah yang disebut, likulli
marhalatin mutaqallabatuhaa (setiap fase itu ada tuntunannya); kemudian li likulli
marhalatin muqtadhayatuhaa, (setiap fase ada konsekuensi yang harus
dilahirkannya), dan likulli marhalatin rijaaluhaa (setiap fase ada orangnya, tokohnya
atau kadernya).
Kemudian, apa yang kita sampaikan ketika dakwah ini
mengalami satu fase yang berbeda dengan masa lalu? Kemarin dakwah berhasil
melalui masa-masa sulit, mengayuh diantara dua persoalan dan kondisi, yakni
kondisi melawan arus yang tidak terlawan dengan kekuatan yang secara thobi’i (alami) susah dihadapi secara face to face, serta kondisi larut.
Memang, dalam fase itu, kita lihat banyak juga yang
tidak memiliki istimroriyah (kesinambungan), kontinyunitasnya
tidak jelas. Kalaupun ada yang berjalan terus, perkembangannnya menyedihkan.
Ada juga yang berkembang tapi kehilangan asholah (orisinalitas). Ini adalah
kasus-kasus perjalanan dakwah dalam menghadapi rezim yang represif dan tekanan
budaya. Bisa jadi banyak yang larut. Seperti para pengikut Nabi Isa, setelah
beberapa lama malah jadi pengikut penjajah yang nyaris menyalib Nabi Isa
sendiri.
Nah, kita ingin, keberhasilan melewati masa-masa
kritis dan sulit semacam itu juga bisa kita capai ketika keadaan ini berubah,
karena tidak otomatis daya tahan itu ada. Makanya harus dicanangkan sesuatu
agar apa-apa yang menjadi doktrin Tarbiyah di atas, bisa direalisasikan.
Bisa jadi, kader yang dulu tahan menderita lama,
tiba-tiba ketika segalanya terbuka seperti sekarang ini, menjadi tidak tahan
lagi. Kalau dulu kan jelas sekali perbedaannya, furqon-nya, antara haq dan batil, sehingga
akhlak para kader itu selalu berlawanan dengan akhlak buruk orang-orang
memusuhi mereka. Nah, setelah keadaan ini terbuka, apa ada jaminan bahwa mereka
tidak akan larut?
Memang, secara doktrin sudah diantisipasi, misalnya
dengan pemahaman tentang tamayyu’ (mencairnya nilai-nilai), idzabah (pelarutan), istifdzadzat (provokasi), ighra’at (rayuan-rayuan), dan mun’athofat (tikungan-tikungan). Secara
teoritis kita tahu semua tentang itu. Tapi ketika kita menjalaninya, apakah
kita cukup siap?
Maka pencanangan ini beranjak dari kenyataan, dimana
sebuah komunitas dakwah sedang mengalami fase-fase lain yang berbeda dengan
fase ketika mereka dibesarkan dulu. Pencanangan ini untuk menyiapkan sesuatu
yang secara teoritis sudah mereka kenal, tetapi secara komunal, penghayatan,
apresiasi perlu dihadapi secara lebih serius agar tidak menimbulkan persoalan
yang rumit yang menyebabkan taurits (pewarisan) itu menjadi terputus.
Dulu dimulai satu langkah dan hasilnya adalah hari
ini. Bagi yang tidak mau melihat hasil yang sama di hari nanti, ya sekarang
diam dan tidur saja. Tapi kalau ingin melihat terus-menerus keadaan seperti
ini, maka harus bergerak untuk masa mendatang. Ini terutama yang
melatarbelakangi pencanangan ‘Aam At-Tarbiyah (Tahun Tarbiyah).
Tapi perlu dicatat bahwa pengertian tarbiyah
(pendidikan) ini tidak menafikan proses tarbiyah yang terjadi di Indonesia
sejak dulu. Tanpa proses tarbiyah, bagaimana mungkin walisongo dapat melahirkan
pejuang-pejuang handal. Apapun namanya, apakah itu pengkaderan dengan ‘t’ kecil
(tarbiyah), yang jelas itu adalah proses pendidikan. Namun Tarbiyah yang sedang
kita perbincangkan dalam konteks ini adalah dengan ‘t’ besar, Tarbiyah (sebagai
nama sebuah gerakan, red).
Wanti-wanti tentang pelarutan ini
pernah Anda sampaikan waktu Munas PK tahun 2000. Apakah memang anda sendiri
sudah melihat kecenderungan itu, sehingga perlu ada pencanangan ini?
Kalau kita baca sirah (sejarah), Rasululllah pernah
berpesan diantaranya “ma al-faqru bi akhsya alaikum, bukanlah kefakiran yang aku
takutkan dari kalian, tapi aku mengkhawatirkan apabila bumi di buka
(dimenangkan) lalu kamu bersaing memperebutkan dunia, sehingga kamu celaka,
sebagaimana celakanya orang-orang sebelum kamu.” Dulu, kesulitan itu membuat
segalanya terbatas, dan kita berhasil melewatinya. Contohnya, kita tidak punya
villa, tapi bisa menikmati banyak villa. Dan kawasan Puncak (Bogor, red) yang
dianggap identik dengan maksiat, seperti hari ini bisa berubah sebagai tempat
acara pengajian karena seringnya digunakan untuk pengkaderan oleh semua pihak,
diantaranya oleh kalangan Tarbiyah.
Wanti-wanti rasul itu, dalam kaitan ini, menegaskan
bahwa setiap kondisi ada pengaruhnya. Kalau dulu, setiap waktu mereka bisa
bertemu, sehingga kesalahan sedikit saja bisa langsung diketahui. Tapi ketika
mereka sudah ada di kawasan yang menggiurkan, secara massal tantangan akan
semakin keras. Sesuatu yang menggiurkan, kalau baru cerita, masih bisa bilang
tidak mau. Tapi kalau sudah sudah di depan mata, bagaimana mungkin tidak tidak
tergoda.
Supaya tidak larut, mereka jangan sampai lupa kepada
akarnya. Makanya, pemantapan nilai Tarbiyah dalam pencanangan ini tidak bisa
kita abaikan, meskipun sekarang mereka masih rutin bertemu setiap pekan dengan muhasabah (evaluasi) dan muraqabah (pengawasan).
Selama 20 tahun berkiprah di
Indonesia, masih banyak orang yang belum tahu Tarbiyah ini. Bisakah Anda
ceritakan sejarahnya?
Dulu, apa yang kita kaji sebetulnya adalah apa yang
menjadi keyakinan bersama umat Islam . Kita punya keinginan dan cita-cita yang
sama, tidak ada perbedaan dari segi materi. Nah Tarbiyah menjadi sejarah ketika
pola pendekatan pengkajiannya tersebut dibuat integral dan menjadi aplikatif.
Kalau di berbagai tempat ukhuwah masih menjadi
teriakan-teriakan yang semu, di lingkungan Tarbiyah, itu diaplikasikan. Kalau
penguasaan Islam selama ini masih bersifat kognitif, maka di Tarbiyah hal itu
dicoba untuk diamalkan. Tema yang dikaji dalam beberapa kali pertemuan harus
ditransformasikan dari dairatul qaul (perkataan, teori), kepada dairatul
amal (pengamalan).
Kemudian dari amal kepada kebiasaan.
Kalau Islam dulu dibatasi pada bidang-bidang dan
ruang-ruang tertentu, maka di Tarbiyah hal itu diperluas sebagaimana Islam
adanya yang berbicara juga tentang politik, ekonomi dan lain-lain. Dengan kata
lain ada orientasi kepada Islam kaffah (total). Mereka dibangun
kesadarannya untuk melihat bahwa pemahaman Islam mereka sebelum ini harus
diluruskan.
Demikianlah sebuah upaya yang dilakukan Tarbiyah
supaya kita bisa mengamalkan Islam dalam satu komunitas baru. Yang intens
mengkaji Islam kan biasanya dari kawasan santri, lalu dengan munculnya
Tarbiyah, dakwah mulai berdaya, karena mulai memasuki kawasan-kawasan yang
sebelum ini dianggap sekuler, yakni kampus-kampus yang memang bukan tempat
kajian agama. Di kawasan itu subur karena para mahasiswa dan sarjana akrab
dengan ilmu-ulmu kauniyah yang dalam Tarbiyah memang menjadi doktrin penting.
Mereka di laboratorium mengkaji ayat-ayat kauniyah
itu, dan kemudian mendapat pembenaran dari ayat qauliyah yang dikaji dalam
Tarbiyah, sehingga mereka pun jadi cenderung kepada aktivitas yang militan.
Dengan proses kesejarahan itu, maka saat ini adalah
era baru dimana dakwah yang selama ini sering diumbar di mimbar mendapatkan
perluasan dan diversifikasinya yakni yang melanjut menjadi dakwah kader. Mereka
inilah yang dalam konsep dakwah Tarbiyah disebut dengan anasirut
taghyir (elemen
perubah).
Dalam proses dakwah ada obyek yang hanya bisa sekedar
menerima dakwah yakni qoobilud dakwah. Ada yang bisa menerima perubahan
dari dakwah itu, yakni qoobilut taghyir ada yang berpotensi menjadi anasirut
taghyir. Nah, anasirut
taghyir ini, ada di
kawasan ilmiah, yakni kampus-kampus dan sekolah-sekolah.
Kepedulian untuk menggarap kalangan yang dalam waktu
singkat bisa melakukan perubahan ini memang dilakukan dengan sadar, karena
pengalaman dakwah yang sudah dilakukan sebelumnya, seperti di dalam
parpol/ormas, dirasa belum efektif. Pengalaman sebelum ini, dakwah di kampus
itu lebih murni, sehingga proses ini akan menyejarah dengan adanya
keluarga-keluarga baru yang akan mengaplikasikan Islam secara lebih utuh.
Hal ini tentu saja tidak terlepas dari adanya satu bi’ah (lingkungan). Nah, tarbiyah ini
adalah bi’ah, dimana unsur-unsurnya terus dibimbing dalam berislam
dan dikawal dari segala pengaruh zaman yang masuk.
Inilah yang disebut kelompok kajian yang mengandung 3
unsur utama. Pertama, yang mengandung atmosfir dzikir dan ibadah atau
aspek ruhaniah spiritual. Kedua, aspek fikriyah, keilmuan. Dan yang
ketiga, aspek dakwah harakiyah, yakni implementasi dari yang
pertama dan kedua. Proses yang demikian pada saatnya akan sampai pada satu
titik, dimana mereka siap untuk berinteraksi dengan masyarakat dengan bekal dan
kekuatan yang memadai sehingga tidak mudah larut, tapi malah bisa menciptakan
perubahan.
Manhaj Tarbiyah yang demikian itu
terinspirasi dari mana?
Kalau kita merujuk kepada buku yang ada, seperti yang
diakui oleh sebuah parpol Islam , mereka berasal dari kelompok usrah. Dan
referensi dari gerakan ini memang diantaranya merujuk kepada gerakan yang
berkembang di Mesir. Secara faktual, menurut Prof. Fathi Yakan, referensi
ilmiah dunia Islam sekarang ini 60 persennya berasal dari gerakan Islam di
Mesir ini.
Sebenarnya hampir seluruh doktrin dakwah dari gerakan
Tarbiyah, diambil dari sumber-sumber yang jauh sebelum Hasan Al-Banna. Misalnya
dalam kitab Muhammad bin Abdul Wahab ada materi qul haadzihi
sabiilii, yang
merupakan materi dasar bagi setiap pemula yang masuk Tarbiyah. Ternyata dalam
kitab Syekh Abdullah Alawi Al-Hadaad, yang sangat populer di pesantren, yaitu Ad-Da’wah
at-Tammah, juga dibuka
dengan ayat tersebut, jadi ini sudah biasa.
Intisari ayat dalam QS 12:108 itu pertama tentang
deklarasi untuk mengikuti jalan dakwah, qul haadzihi
sabiilii. Kedua,
jalan itu hanya menuju kepada Allah. Ketiga, jalan itu berlangsung di atas
manhaj yang jelas. Keempat adanya pemimpin yang ikhlas (qiyadah
mukhlisoh) di jalan
itu. Kemudian kelima adanya pengikut/pendukung yang tho’at (jundiah
muthi’ah) dalam jalan
itu.
Mereka semua rata-rata memiliki marja’ (rujukan) yang sama dari berbagai
ulama. Bagi Tarbiyah, siapa saja yang berbicara tentang Islam akan menjadi
rujukannya. Tapi yang paling mayoritas sering digunakan adalah
pemikiran-pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, An-Nadwy dan Mushtafa
Masyhur.
Tahun 1980-an pemikiran-pemikiran mereka memang masuk
ke Indonesia, karena di tempat asalnya, Mesir, mereka dipukul oleh Nasser. Ini
hikmahnya, mereka muncrat kemana-mana, termasuk ke sini. Mereka juga masuk ke
berbagai elemen dan lembaga ummat di berbagai pelosok dunia. Dengan berbagai cover mereka menjalani gerakan mereka,
misalnya, WAMY, IIFSO, OKI, Rabithah Alam Islami, termasuk juga lembaga yang
pernah dipimpin Anwar Ibrahim. Lembaga-lembaga itu menjadi corong yang
mensosialisasikan abad ke-15 H ini sebagai titik tolak keberangkatan ummat
Islam.
Apakah yang Anda maksud gerakan dari
Mesir itu adalah Ikhwanul Muslimin?
Gerakan inilah yang nampaknya banyak memberi inspirasi
dan pengaruh kepada Tarbiyah. Prosesnya antara lain lewat pengiriman buku-buku
tentang gerakan itu ke pesantren-pesantren oleh mahasiswa kita yang belajar di
Timur Tengah. Tapi sayang kitab-kitab itu tidak dibuka, karena dianggap bukan
kitab kuning.
Saya ingat, tahun 1972 Dr. Yusuf Qaradhawi pernah
berkunjung ke Indonesia. Dan beliau menyumbangkan kitab-kitab sejenis itu. Di
antara yang diberi itu adalah guru saya KH Abdullah Syafi’i. Beliau adalah
seorang pembaca yang lahap. Di mobilnya selalu ada kitab.
Waktu itu saya masih kelas III Tsanawiyah. Mengikuti
jejak beliau, saya sudah berkenalan dengan kitab Fii dzilalil
qur’an serta kitab
karangan Abu Hasan Ali An-Nadwi yang disumbangkan Yusuf Qaradhawi.
Begitulah inspirasi gerakan itu sampai ke sini. Waktu
itu orang belum yakin, bagaimana halaqah yang paling banyak anggotanya cuma
12 orang bisa mengubah dunia. Orang-orang masih yakin perubahan itu hanya bisa
terjadi dengan massa yang besar. Sementara kami terus melakukan pengkaderan
intensif.
Begitu intensifnya hingga di masa awal itu ada seorang
tokoh muda gerakan ini, yang bisa 3 kali ke Puncak setiap akhir pekan untuk
mencetak kader-kader Tarbiyah ini. Biayanya dari kantong sendiri. Kadang
numpang truk. Bahkan tidak aneh kalau waktu itu di antara mereka ada yang jalan
kaki dari Depok ke Jakarta, itu biasa. Dan mereka pulang jarang yang di bawah
jam 12 malam. Seperti itulah mereka menjadi kader di masa lalu. Meski begitu
Tarbiyah juga tidak eksklusif, karena mereka juga terjun ke tengah masyarakat.
Apakah proses pengkaderan itu
dilakukan juga di kampus dan sekolah-sekolah agama?
Ada, perekrutan itu dilakukan juga di sana. Tetapi
memang respon yang paling cepat adalah di kampus-kampus umum itu. Mungkin
karena berangkat dari kesadaran, bahwa mereka sudah minus keislamannya,
sehingga mereka semangat untuk belajar Islam. Sedangkan orang-orang di kampus
agama mengklaim, “Kami gudangnya Islam.” Jadi mereka sudah merasa cukup.
Kembali soal sejarah Tarbiyah tadi.
Bisa anda jelaskan siapa-siapa saja tokoh yang membawa fikrah gerakan ini ke
Indonesia?
Tentu saja ketika proses masuknya fikroh ini
berlangsung, banyak pintu yang digunakan, proses ini seperti tayyar (arus). Sebuah tayyar kan tidak jelas mana awal dan mana
akhir. Begitu banyak sehingga jika Anda sebut beberapa nama tokoh Tarbiyah,
boleh jadi semuanya punya peran.
Tapi saya ingat salah seorang kyai di Jakarta, pulang
dari Timur Tengah membawa kitab untuk pesantren. Saya mengkhatamkan tiga kitab
risalah Hasan Al-Banna yang dibawa kyai saya itu yaitu Bainal Amsi
wal Yaum (Antara
Kemarin dan Hari Ini), Da’watuna (Dakwah Kami di Era Baru) dan Risalah
Ta’lim.
Dalam perkembangannya Tarbiyah terjun
ke dalam da’wah politik ?yakni dengan pendirian Partai Keadilan. Apa
pertimbangannya?
Bukankah begitu banyak ilmu, lalu kalau bukan untuk
dikaji dan diamalkan dan diaplikasikan, terus untuk apa? Apakah cukup kita
membicarakan di dalam halaqah, tapi di luar kita selesai begitu
saja. Kalau dilihat dari perjalanan Rasulullah, mereka mulai sembunyi selama
tiga tahun, sesudah itu mengumumkan da’wahnya. Saat itu sudah eranya dakwah
memasyarakat sampai hijrah dengan segala resikonya. Sesudah itu di Madinah terjadi
suatu proses yang bersifat politik praktis dan kelembagaan politik.
Lagipula, kita harus membayar janji kita kepada Allah
bahwa shalat, ibadah dan seluruh kehidupan kita untuk Allah. Jadi hidup itu
mulai dari tidur, makan, sampai mengatur orang bermasyarakat, berarti namanya
politik.
Keputusan untuk terjun ke politik didorong oleh
kesadaran supaya tidak ingin berasyik-asyik saja dalam konsep da’wah, tetapi
apa yang bisa kita berikan untuk ummat pada saat moment berpolitik
memungkinkan. Kalau momen itu tidak diambil, ummat akan mengeluh dan kecewa.
Sementara banyak orang kafir sudah mengibarkan bendera.
Orang memaklumi bahwa kader Partai
Keadilan (PK) dari kalangan Tarbiyah. Sementara Doktor Yusuf Qaradhawi menulis
bahwa PK adalah perpanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia.
Jadi Tarbiyah sesungguhnya adalah IM di Indonesia?
Wallahu a’lam. Saya baca buku asli yang ditulis
Qaradhawi itu. Di situ tertulis imtidad. Tetapi apakah betul terjemahannya
sebagai perpanjangan tangan. Sebetulnya mereka adalah jamaah
wahidah yang diikat
oleh rabithul aqidah. Jadi di manapun mereka berada
tetap dalam satu ikatan yang kokoh.
Apakah ada semacam ikatan resmi
antara tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Tarbiyah di Indonesia?
Begini, kalau soal kerjasama ya sulit juga dijawab,
karena tidak sama seperti komunis di Indonesia dulu yang punya hubungan jelas
dengan komunis di Rusia. Yang jelas kalau di luar negeri seperti di Yordan,
Sudan dan lain-lain, Ikhwanul Muslimin bergerak dengan bendera formal, tapi ada
di sebagian negeri yang lain tidak menggunakan nama Ikhwanul Muslimin, namun
semangatnya sama.
Mengapa tidak ada keinginan untuk
menegaskan diri dengan menyatakan bahwa Tarbiyah tidak lain adalah Ikhwanul
Muslimin?
Yang penting bukan terstruktur atau tidak, diakui atau
tidak, tapi produk apa yang bisa dihasilkan oleh seorang muslim dengan komitmen
dan semangat dakwahnya. Kita lebih mengandalkan kualitas komoditas, bukan
propagandanya, na’tamid ‘ala husnil bdho’ah la ‘ala husnid di’ayah.
Seingat saya, selama bertahun-tahun tumbuh bersama
gerakan ini, mereka tidak pernah diperkenalkan dengan satu tokoh. Kita selalu
membiasakan untuk selalu merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah. Kita mencegah agar
jangan sampai kader-kader kita terpesona oleh figur dan oleh nama besar. Lebih
baik begitu daripada mengibarkan bendera tapi tidak pernah membuktikan
komitmennya.
Kita sendiri tidak berani mengklaim sebagai Ikhwanul
Muslimin karena, pertama, sudah benarkah klaim itu, kalau tidak, berarti kita
sudah membohongi masyarakat. Kedua, kalaupun kita punya hubungan
dengan Ikhwanul Muslimin, apakah kualitas kita benar-benar sama dengan mereka.
Kalau sudah sih tidak apa-apa mengklaim sebagai bagian dari jamaah itu. Tapi
kalau pemikirannya jauh dari Hasan Al-Banna, dan produk akhlaknya mengecewakan,
gaya bahasanya juga berbeda buat apa mengaku-ngaku. Jadi bagi kita yang penting
adalah produknya dulu.
Di Mesir organisasi IM muncul secara
terang-terangan. Mengapa di negeri lain tidak semua yang mau terang-terangan?
Mesir itu kan monumen, tempat lahirnya gerakan itu.
Sebagai monumen besar, ia tidak boleh tersembunyi. Apapun risikonya, termasuk
nyawa, eksistensi jama’ah harus tetap muncul. Kalau dia dibilang tidak ada,
tidak ada di dunia ini, kalau dia dibilang ada, orang akan bilang ada.
Tentu saja di Indonesia tidak bisa saya katakan bahwa
Tarbiyah adalah perpanjangan tangan yang terstruktur dari IM, tapi lalu
disembunyikan. Benar atau tidak, itu soal lain. Paling tidak dari sisi kampanye
nama, memalukan kalau orang Indonesia cuma mengambil nama lalu kualitasnya
tidak sampai.
Apakah pencanangan gerakan Tarbiyah
di era terbuka ini kemudian akan mengarah kepada pembentukan ormas?
Nampaknya tidak. Jadi pencanangan ini adalah da’wah ke
berbagai lini. Ini lebih kepada keinginan untuk menanamkan semangat menyebar.
Dalam selebaran acara seminar
“Tarbiyah di Era Baru” Anda disebut sebagai Syaikh Tarbiyah. Apakah memang
dalam struktur Jamaah Tarbiyah imamnya Anda. Dan bagaimana sampai Anda
didudukkan sebagai syaikh?
Antara sungguhan dan guyonan, susah membedakannya.
Biasanya orang yang sudah dekat kan begitu. Sebenarnya sebutan ini hanya buatan
panitia saja. Saya tanya mereka, “Kenapa dibuat seperti ini?”
Mereka bilang, “Publikasinya sudah disebar kok.” Maka
saya balas gurau, “Adik-adik mau nyindir saya ya, bahwa saya sudah
kakek-kakek. Syaikh itu kan artinya kakek. Jadi era saya sudah hilang, sekarang
era kalian semua?”
Pertimbangan mereka mungkin saya ini kan nggak sama
dengan yang lain. Yang lain kan ada yang bergelar doktor. Mereka mungkin
mengira-kira untuk mengimbangi, sehingga akhirnya dibuat julukan itu. Humor itu
biasa terjadi, sering si Fulan ditulis bergelar Ph.D, maksudnya bukan doktor,
tapi singkatan dari Pakar Halaqah dan Daurah, hahaha…
Lantas ada yang menggelari saya dengan Kyai Haji, tapi
itu orang-orang saja yang kasih. Saya sendiri risih dipanggil Kyai Haji. Kalau
diangkat dengan sebutan mulia saya gemetar.
Apakah penyebutan syaikh itu terkait
dengan posisi struktural anda sebagai ketua MPP di PK?
Insya Allah tidak.
Gerakan Tarbiyah selama ini banyak
berbasis di kampus yang notabene masyarakat menengah dan relatif elit.
Belakangan apakah juga memperhatikan kalangan bawah?
Relatif, di beberapa daerah pembinaan kalangan bawah
tampaknya cukup memuaskan, walaupun untuk berpacu perlu waktu, kenapa misalnya
di beberapa daerah transmigrasi ada keberhasilan yang mereka menjadi pemimpin
riil.
Sering muncul kritik bahwa gerakan
Tarbiyah ini cenderung eksklusif. Apakah Anda rasakah pula kecenderungan itu?
Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi,
tetapi mayor dan kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya
pun saling ngobrol saja.
Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya
mengingatkan kader-kader kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka
bisa menjadi orang yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara
yang lebih santun.
Jadi kesan eksklusif itu bukan karena ajaran ataupun
doktrin, tapi dari sisa yang belum diselesaikan dari kajian materi yang saat
itu harusnya mereka cari sendiri.
Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk
menambah wawasan. Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai
untuk memperkaya dari apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok
kecil itu.
Sesuai dengan apa yang ia nasehatkan, Rahmat Abdullah
sendiri adalah sosok pejuang da’wah yang sangat aktif memperkaya wawasan
keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun
kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa
halaqah kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas
keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor. Sejak tahun
1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi
undangan seminar, mudzakarah du’at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya.
Meski begitu ia tetap tawadhu dan menolak disebut otodidak. “Allah-didak. Allah
yang mendidik dan mengajarkan kita,” katanya meluruskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar