Kamis, 23 Juni 2011

Inflasi Tetap rendah, Kekuatan Ekonomi China Melesat!

SHANGHAI (Berita SuaraMedia) – Pertumbuhan ekonomi China melonjak 11.9% dalam kuartal pertama, kemungkinan memberikan ruang bagi Beijing untuk membiarkan mata uangnya meningkat, namun para analis memperingatkan bahwa negara itu sedang menghadapi tekanan yang semakin meningkat untuk memotong stimulus dan memelihara perekonomiannya dari overheating. Performa kuat itu mungkin akan mengizinkan pelonggaran kontrol mata uang secara politik dengan mengganti kemungkinan kerugian dalam industri ekspor. Analis berharap Beijing akan membiarkan yuan naik tahun ini, meskipun Presiden Hu Jintao dan yang lainnya telah menolak AS dan tekanan asing lain untuk sebuah perubahan, mengatakan bahwa China akan bergerak di jalurnya sendiri.
Inflasi tetap rendah pada 2.2%, di bawah target pemerintah sebesar 3% untuk tahun ini, meredakan tekanan untuk menaikkan suku bunga secepatnya atau langkah-langkah lain untuk meredakan lonjakan. Namun analis mengatakan bahwa Beijing perlu segera bertindak untuk mengurangi tekanan menaikkan harga.
"Keadaan sulitnya adalah antara mengurangi stimulus yang masih menopang perekonomian dan memperketat dengan cukup cepat untuk menjaga harga agar tidak lepas kendali," ujar Tom Orlick, analis Stone & McCarthy Research Associates di Beijing.
Pasar keuangan Asia lainnya menyambut pengumuman itu tapi indeks Shanghai China sendiri menurun dengan kekhawatiran tentang kemungkinan naiknya suku bunga.
Setelah rapat kabinet pada hari Rabu (22/06), pemerintah mengatakan ingin menjaga agar real estate dan industri lain yang overheated tetap terawasi dan sedang mengamati kemungkinan pajak  dari perolehan real estate dapat mendinginkan harga yang melonjak.
"Terutama di perkotaan, harga rumah naik terlalu cepat dan peningkatan moneter serta risiko kebijakan fiskal tidak dapat diabaikan," ujar pemerintah.
Data terbaru menunjukkan bahwa China akan segera menyalip Jepang sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia setelah AS. Produk domestik bruto China tahun lalu berjumlah 4.9 trilyun dolar, persis di belakang Jepang yang mencapai 5.1 trilyun dolar.
Tokyo belum melaporkan angka di kuartal pertamanya. China adalah perekonomian Asia kedua yang telah melaporkan pertumbuhannya di kuartal pertama, menyusul Singapura yang mengatakan bahaw PDB-nya meningkat 32.1%, kenaikan tercepatnya dalam 35 tahun.
Namun, meskipun bank sentral Singapura telah merespon dengan mengumumkan bahwa mata uangnya akan diijinkan untuk menguat agar inflasi tetap terjaga, Beijing belum mengambil langkah apa pun pada yuan.
China telah membekukan nilai mata uangnya terhadap dolar AS sejak tahun 2008 untuk membantu ekportir bersaing di tengah lemahnya permintaan global. Analis mengatakan Beijing harus membiarkan yuan menguat untuk meredakan ketegangan dalam perekonomiannya sendiri dan mendorong daya beli konsumen China namun tidak akan bertindak hingga perdagangan dan pertumbuhan solid.
Produsen AS berpendapat bahwa yuan berada di bawah nilai hingga 40%, memberikan keuntungan harga yang tidak adil bagi eksportir China dan meningkatkan surplus perdagangan mereka. Presiden Barack Obama telah berjanji untuk menekan agar sistem yang  menekan nilai mata uang itu diakhiri, namun ia mengundurkan diri dari pendirian konfrontasionalnya itu dalam beberapa minggu terakhir, kemungkinan untuk membiarkan para pemimpin China bertindak tanpa terlihat seolah menyerah pada tekanan asing.
Terlepas dari figur pertumbuhan yang kuat, pemerintah China menyerukan agar waspada.
"Situasi ekonomi saat ini masih sangat rumit dan kita masih menghadapi banyak masalah dalam proses pemulihan," ujar juru bicara biro statistik, Li Xiaochao, kepada wartawan di Beijing. Ia mengatakan bahwa pemerintah akan mempertahankan kebijakan pro-stimulus namun akan menjadi lebih fleksibel dan tertarget, sesuai situasi.
Lonjakan dalam ekspansi ekonomi dari hanya 6% di kuartal yang sama tahun lalu dan 10.7% di kuartal akhir tahun 2009 didukung oleh kenaikan output industri sebesar 19.6% dalam satu tahun ke belakang dan kenaikan 26% dalam investasi pabrik dan aset-aset tetap lainnya.
Pemimpin China menghadapi tantangan dalam memeriksa inflasi dan membatasi kecerobohan, pengeluaran pada pabrik-pabrik tak penting yang didorong stimulus, dan aset-aset lainnya yang dapat meninggalkan setumpuk hutang buruk.
Beijing menaikkan harga bahan bakarnya pada hari Rabu untuk memperlihatkan rasa percaya dirinya dalam menjaga tingkat inflasi.
Tingkat inflasi naik 2.7% pada bulan Februari dibandingkan dengan tahun lalu, menambah ekspektasi bahwa harga-harga bisa lepas kendali. Biro Statistik mengatakan bahwa inflasi bulan Maret sedikit menurun 2.4%.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar